KOPERASI PP AL-ISHLAH GELUTI BISNIS BATU ALAM

Gunung Kuda yang terletak di perbatasan antara Cirebon dengan Majalengka, Jawa Barat, bukan hanya menyimpan keindahan alam yang layak dikagumi para pecinta alam, ternyata malah menjadi ladang uang bagi masyarakat sekitar. Dari sini, bermunculan pengusaha-pengusaha baru berbisnis batu ornamen yang berasal dari gunung untuk dijadikan hiasan dinding.

Tidak kurang dari enam ratus penduduk desa yang semula hidup di bawah garis kemiskinan, kini memiliki kehidupan lebih baik setelah mampu mengolah batu gunung menjadi bahan baku hiasan dinding. Walaupun peralatan yang digunakan penduduk Desa Bobos, kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, untuk memanipulasi batu alam menjadi batu ornamen masih bersifat manual. Alat-alat yang dipakai antara lain pisau potong dan pahat untuk mengukir.
Sebelumnya, penduduk sekitar hanya memanfaatkan batu gunung untuk membuat cowet, ulekan, alu dan alat-alat sejenisnya. Tepatnya sejak 1932 mereka belum mengerti kekayaan lain yang tersimpan di balik keperkasaan Gunung Kuda. Namun, berkat kejelian mereka juga, batu yang semula hanya berharga lembaran uang seribu bisa terjual ratusan ribu. Bahkan, bisa diekspor sampai Singapura.
Pengembangan batu alam menjadi hiasan dinding ini baru dikembangkan tahun 1999, yaitu sejak dipercayakan pengelolaannya oleh PT Perhutani pada Pondok Pesantren Al-Ishlah melalui Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren). Dan mendapat lisensi sejak 1991 yang diperpanjang terus menerus dengan perbandingan waktu selama lima tahun. Dipilihnya PP Al-Ishlah, karena memang berada dekat dengan lokasi gunung dan terhitung sudah cukup lama berdiri atau setua keberadaan gunung itu sendiri. Tak heran, masyarakat sekitar pun percaya penuh pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pesantren.
Sejak dipercayakan pengelolaan batu gunung ke Koppontren, masyarakat membeli bahan baku dari koperasi dan menjualnya ke pasar setelah selesai diolah. Pihak koperasi hanya menyediakan lahan yang dibutuhkan dengan ukuran setiap 1 meter kubik dijual seharga Rp 20.000. Mereka membawa karyawan dan peralatan sederhana yang dibawa sendiri, kemudian menjualnya kepasar dengan harga Rp 23.000 – Rp 60.000 batu per meter persegi, tergantung kualitas dan ukurannya. Sebulan, mereka bisa meraup untung Rp 400.000 – Rp 1 juta.
Tidak hanya pengusaha kecil ini saja yang mendapat untung, tenaga buruh lainnya pun mendapat untung dari upah angkut batu. Karena bila tidak ada alat transportasi mengangkut batu, mereka memperkerjakan orang muda untuk mengangkut batu dari gunung ke bawah yang berjarak kurang lebih 1 km. Umumnya pekerja ini mampu mengangkut dua batu besar dengan upah satu kali angkut Rp 1000. Dan dari pekerjaan ini, dalam sehari mereka bisa tiga puluh kali angkut batu.
Jenis batu yang saat ini bisa dibentuk untuk hiasan dinding menurut KH Usep Saifudin Zuhri, pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah, adalah landstone. Sementara jenis lainnya seperti marmer dan kaulin belum bisa dikelola dengan baik. Sisa dari pecahan-pecahan batu itu kemudian dijadikan keramik yang dijual ke Indramayu. Dan dari limbah urugan keramik dimanfaatkan menjadi semen yang bisa dijual ke PT Indocement di Palimanan. Sedang hiasan batu ornament, banyak dijual ke PT Mulia Keramik di Cikarang.
“Prinsipnya, kami berusaha memanfaatkan seluruh potensi yang ada. Tetapi sampai saat belum ada BLK (Balai Latihan Kerja) di Cirebon yang khusus mengajarkan ketrampilan batu alam belum tersedia,” ungkapnya.
Beruntung, penduduk Desa Bobos sebagian besar merupakan masyarakat yang datang dari berbagai daerah, seperti dari Bali, Yogyakarta, Jakarta dan sebagainya. Dengan begitu, mereka bisa saling menimba ilmu, khususnya dalam bidang ukir mengukir batu.

Koppontren

Peran koperasi membantu pengusaha-pengusaha batu alam, ungkap alumni Gontor ini, adalah memberi permodalan dan menyediakan lokasi untuk anggota melalui Swamitra (proyek kerja sama Bank Bukopin dengan koperasi-koperasi pasar). Selain itu, ada pula kegiatan rohani dengan pertemuan-pertemuan secara berkala terutama di tujuh wilayah kerja PP Al-Ishlah. Antara lain di Bobos, Lengkong Wetan, Lengkong Kulon, Cipanas.
Sebelum menjadi anggota, ada komitmen bersama antara anggota dengan pengurus koperasi. Yaitu, dana yang terbesar adalah untuk pesantren sebesar 60% dan 40% untuk anggota. Berarti, ada sekitar 10 juta lebih dana yang masuk setiap bulannya dan digunakan untuk pendidikan.
Pada saat ini PP Al-Ishlah mengembangkan delapan lembaga pendidikan dari TK hingga Madrasah Aliyah/SMU. Sedang untuk kesejahteraan para santri yang berjumlah 705 orang dan umumnya berasal dari berbagai daerah, diberikan subsidi dari sisa hasil usaha (SHU) koperasi.
“Yang menarik anggota, bukan hanya itu. Kita punya lembaga swamitra yang ada Baitul Malnya. Bagi yang perlu dana bisa melakukan pinjaman besar pada swamitra (sekitar Rp 50 juta) dan pinjaman kecil (Rp 1-2 juta) pada Baitul Mal. Jadi, ada interaksi yang kuat antara anggota dengan pengusaha,” ucapnya.
Dari mata pencaharian ini, kesejahteraan penduduk kian bertambah. Mereka yang semula tinggal di rumah gubuk bisa menempati rumah cukup nyaman hasil keringat sendiri. Selain itu, anak-anak generasi mereka pun kini tidak lagi berbekal ijazah SD, melainkan sarjana-sarjana trampil yang siap membangun desanya. ()

direalis dari : Kantor Berita Indonesia (KBI) Gemari – Kamis, 11 Juni 2009

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. mohandika
    Agu 13, 2009 @ 02:51:53

    alumni dan kolega al islah bersebar di penjuru pulau jawa. produksi saja dalam skala besar oleh ponpes al islah,lalu titip jual di alumni-alumni dengan upah prosentasi penjualan. satu kota 2-4 agen, dikirim dengan satu truk sekaligusdibagi empat.

    ornamen bisa dikembangkan ke ornamen islami.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: