PELANTIKAN PENEGAK

Sabtu, 21 Nopember 2009

Suasana mendung menggelayut  di atas langit gunung kuda. Rintik-rintik hujan nampaknya sebentar lagi akan turun membasahi bumi  Al-Ishlah Desa Bobos Kecamatan Dukupuntang Kab. Cirebo. Suasana itu tak menghalangi semangat siswa-siswi MA Al_Ishlah Bobos untuk mengikuti pelepasan peserta Kemping Calon Penegak di Pangkalan Siti Khodijah dan Abu Bakkar Siddik (MA A-Ishlah Bobos).

Sore Itu, Kamis tanggal 19 Nopember 2009 sebagian Tegak Bantara Senior dan yunior sedang sibuk memberi pengarahan dan instruksi kepada calon anggota pramuka penegak di pangkalan  MA Al-Ishlah tentang berbagai persiapan yang telah dan harus dilakukan oleh masing-masing peserta. Di sisi lain, Kak Ermaya sebagai pembina pramuka sibuk pula memberi arahan kepada Tegak Bantara yang lain yang termasuk panitia dalam kegiatan tersebut.

Tak lama berselang, Bapak Nasrudin MA, datang menunggang motor merah kesayangannya. Beliau menggantikan Mabigus Bapaka H. Drs. Abdul Rosyid, MPd. yang sedang sakit (mohon doanya ya), untuk membuka sekaligus melepas keberangkatan peserta ke Buper Sindang Wangi dan upacara dibuka oleh Kak Mabigus Yayasan Kak Usep SZ. M.Pd.I.

Antusiasme peserta bagitu nyata terlihat tatkala mereka berebut naik kendaraan mobil Kolbak samapai mau ada yang terjatuh. mereka akan berkemah di Buper Sindang Wangi selama tiga hari mulai dari hari Kamis sampai dengan hari Sabtu tanggal 21 Nopember 2009 hari ini.

Dari kegiatan kepramukaan ini diharapkan setiap anggota pramuka Pangkalan MA Al-Ishlah memiliki Life Skill (kecakapan hidup) seperti yang termuat dalam Dasa Darma Pramuka dan Tri Satya tidak hanya sekedar hafal. Diharapkan anggota pramuka mampu menjawab segala tantangan hidup (problematika hidup) yang mengiringi dalam setiap perkembangan zaman. sehingga siswa-siswa MA Al-Ishlah menjadi manusia-manusia tangguh, kreatif, inovatif, penuh rasa tanggung jawab dan penuh sikap optimisme dalam menyikapi dan menjalani kehidupan.

by : Zein

 

 

 

 

Iklan

MA AL-ISHLAH SEBAGAI COMMUNITY BASED EDUCATION DAN TANTANGAN MASA DEPAN Oleh : Drs. Abdul Rosyid

re-exposure-of-phot0007

Pendidikan merupakan bagian esensial dari suatu struktur masyarakat yang membantu mereproduksi bentuk masyarakat yang dikehendaki oleh suatu bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional, Madrasah disebut sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam dimana sampai saat ini masih mencari bentuk idealnya diakibatkan kurangnya informasi yang menyuarakan Madrasah. Tidak mengherankan jika selama ini Madrasah cenderung menjadi semacam barang asing yang tak bisa akrab dan dekat dengan masyarakat. Jelas situasi ini menghambat upaya pengembangan dari Madrasah dan lembaga pendidikan Islam secara umum.

Perkembangan Madrasah pada umumnya kalah bersaing dengan sekolah sekolah umum yang berada di bawah naungan Dep Dik Nas hal ini bisa dipahami karna Dep Dik Nas terfokus hanya memikirkan untuk bagaimana mengupayakan kualitas sekolah-sekolah yang di bawah naungannya, tidak memikirkan hal yang lain. Sedangkan Madrasah yang berada dalam pengelolaan Departemen Agama hanya merupakan salah satu bagian yang harus ditangani dari berbagai urusan yang lain. Walaupun demikian, harus diakui bahwa Madrasah merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan Islam, dan Madrasah ini terutama merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang luar biasa besarnya bagi Pendidikan Nasional. Karena, Madrasah tumbuh dan berkembang hasil dari masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, Madrasah dari awalnya merupakan Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education) yang sekarang sedang dikembangkan oleh pemerintah. Namun kenyataannya, Madrasah tetap kurang diperhatikan oleh pemerintah, bahkan diperlakukan secara diskriminatif baik soal budgeting, pengadaan sarana dan prasarana, pengadaan sumber-sumber kepustakaan dan juga pengembangan Madrasah. Akibatnya, Madrasah hidup dan berkembang hampir-hampir dan hanya dari dukungan swadaya masyarakat.
Madrasah Aliyah Al Ishlah Bobos yang berlokasi di Desa Bobos Kecamatan Dukupuntang Kab. Cirebon kiprah, peran dan fungsinya dalam ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa sudah berlangsung selama hamper 34 (tiga puluh empat) tahun telah ada dan akan terus mengupayakan kualitas pendidikannya sejalan dengan cita-cita luhur para pendirinya, yang disemangati oleh keinginan untuk terus berjuang menegakan kalimat Allah Swt. Melalui jalur pendidikan formal semakin memantapkan eksistensinya dalam menghadapi era globalisasi, dimana lembaga pendidikan semakin dituntut untuk lebih dapat mempersiapkan para peserta didiknya memiliki kompetensi dan performansi yang kompetitif di tingkat lokal, regional, nasional dan bahkan internasional.
Madrasah Aliyah Al Ishlah Bobos dalam meningkatkan kualitasnya menerapkan pola paradigma pendidikan dimana ada pergeseran paradigma dari kebijakan input- oriented yang memandang peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan semata-mata meningkatkan mutu masukan ke kebijakan outcame-based dimana melihat peningkatan mutu pendidikan harus dimulai dengan expected –outcome yang jelas dari suatu lembaga pendidikan. Hal ini sama dengan prinsip ekonomi mendapatkan untung yang sebanyak banyaknya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Prinsip ini bisa dicapai jika sebuah proses produksi dimaskimalkan untuk mengolah row material yang murah menjadi out-put produksi yang berkualitas tinggi dan bisa dijual dengan harga mahal. Sama halnya jika penyebab rendahnya kualitas siswa dituduhkan ke kualitas in-put, maka berarti proses penyekolahan (schooling) yang terjadi tidak memberikan nilai tambah (value added) yang penting bagi perkembangan kecerdasan anak. Jadi, sebuah lembaga pendidikan yang baik tidak lagi mempersoalkan kualitas in-put yang diterima, tetapi memfokuskan diri pada penggunaan teknik dan metode yang efektif dalam proses kegiatan belajar dan mengajar. Kualitas in-put yang rendah hendaknya menjadi pemicu semangat untuk membuktikan bahwa sebuah lembaga pendidikan benar-benar bisa memberi value added bagi perkembangan siswa yang kebetulan tumbuh dilingkungan keluarga yang kurang beruntung. Sekolah (Madrasah) yang efektif menganut asumsi dasar bahwa prestasi siswa tidak hanya dipengaruhi oleh absolut siswa saja (seperti latar belakang sosial, kecerdasan dan motivasi), tetapi lebih jauh dari itu juga oleh faktor kelas, sekolah (Madrasah) dan kebijakan pendidikan.
John Vaizey, dalam sebuah artikelnya Education for tomorrow menolak asumsi bahwa setiap anak terlahir dengan tingkat kecerdasan yang berbeda (children are born intellectually sheep or goats). Sebaliknya ia dengan tegas memandang bahwa semua anak memiliki tingkat kemampuan intellectual yang sama. Adapun kemampuan lebih merupakan pencarian dari ketimbang anugrah. Seorang anak bisa menjadi lebih atau kurang berpengetahuan disamping karena lingkungan keluarga dimana dia pertama kali mengawali hidupnya, juga sangat tergantung pada proses sosial dan pendidikan yang ia alami. Disini, peran lembaga pendidikan memegang peranan penting dalam proses perkembangan akademik mereka.
Dengan paradigma di atas diharapkan Madrasah atau sekolah menjadi lembaga pendidikan yang beorientasi kepada outcome yang berkualitas. Perbaikan dan peningkatan mutu masukan (in-put) dan proses pendidikan harus merupakan upaya penjabaran untuk mencapai “expected outcome”. Standarisasi expected outcome dalam bentuk kompetensi menjadi titik awal untuk standarisasi masukan dan proses pendidikan. Standar itu akan memberikan arah yang jelas bagi pengelola pendidikan tentang target kompetensi yang harus dicapai disetiap lembaga pendidikan. Standar menjadi acuan seberapa baik hasil pendidikan yang diinginkan sesuai dengan hasil yang ada. Standar juga menjadi pendorong semua pihak untuk melakukan usaha secara terencana dan sistematis untuk mencapainya ( Standards are created because they improve the activity of life).
Menurut UU SISDIKNAS ada 8 (delapan) aspek standar Pendidikan yaitu : 1) Standar isi (kurikulum), 2) Standar Proses, 3) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 4) Standar Pengelol, 5) Standar Penilaianm, 6) Standar Pembiayaan, 7) Standar Sarana dan Prasarana, 8) Standar Kompetensi lulusan.
Madrasah Aliyah Al Ishlah Bobos dengan disemangati oleh karakter para pendirinya yang menghendaki outcome yang berkualitas dengan slogan “dilepas ke air jadi buaya dilepas keutan jadi macan”, terus menerus berbenah meningkatkan berbagai kinerjanya baik yang dilakukan oleh Kepala Madrasah, Guru-guru, TU dan didukung oleh Yayasan Islam Al Ishlah dari mulai para Pembina, Pengawas, Kopontren dan terutama Pengurus Yayasan.
Salah satu strategi manajerial yang dikembangkan untuk menjamin sebuah organisasi (Madrasah) memiliki daya tahan dan daya hidup dari masa sekarang dan berkelajutan sampai masa yang akan datang yaitu dengan melakukan analisis SWOT. Analisis ini diterapkan dalam konteks kehidupan organisasi pendidikan dan mencakup unsur-unsur pokok kehidupan Madrasah berkenaan dengan empat hal yang berkaitan dengan inti analisis SWOT, yaitu; faktor-faktor kekuatan Madrasah (strengths), kelemahan Madrasah (weaknesses), peluang-peluang hidup dan kemajuan Madrasah (opportunities), dan tantangan-tantangan yang merintangi kemajuan Madrasah (threats).
Gambaran analisis SWOT di Madrasah Aliyah Al Ishlah Bobos sebagai berikut :
a) Faktor-faktor pendukung MA Al Ishlah Bobos
1. Lokasi Madrasah berada dilingkungan pesantren yang sangat mendukung pada pendidikan moral peserta didik.
2. Madrasah mudah dijangkau karena berada dijalan raya yang bisa dilalui dari semua arah.
3. Lingkungan masyarakat sekitar Madrasah yang sangat kooperatif untuk memajukan Madrasah.
4. Guru-guru hampir 90% sesuai dengan disiplin ilmunya dan sudah profesional dibidangnya masing-masing.
5. 70 % guru-guru berasal (alumni) Al Ishlah bobos.
6. Dukungan orang tua siswa terutama dalam membangun komitmen keagamaan pada siswa cukup kuat.
7. Tradisi keseharian di sekolah cukup mendukung pada perkembangan kemajuan siswa.
8. Nuansa lingkungan yang berada di bawah naungan gunung kuda dan gunung Ciremai mendukung pada suasana nyamannya melakukan pembelajaran.
b) Kelemahan-kelemahan Madrasah Aliyah Al Ishlah Bobos.
1. Terbatasnya anggaran untuk kepentingan biaya operasional.
2. Latar belakang orang tua siswa dari golongan ekonomi menengah ke bawah sehingga sulit sekali untuk bayar SPP tepat waktu.
3. Lokasi Madrasah yang terlalu dekat dengan jalan raya yang berdampak pada bisingnya bunyi kendaraan yang mengganggu kegiatan KBM.
4. Halaman yang terlalu sempit sehingga berdampak pada sulitnya untuk memaksimalkan sekolah yang berwawasan lingkungan.
5. Untuk siswa dari wilayah timur lokasi sekolah tanggung karena harus naik angkot beberapa kali.
6. Sarana dan prasarana masih kurang terutama buku-buku pendukung pembelajaran dan media pembelajaran yang lain.
c) Faktor Peluang kemajuan MA Al Ishlah.
1. Latar belakang peserta didik 60% berasal dari lingkungan pendidikan keagamaan.
2. Otonomi penyelenggaraan pendidikan dari Pemerintah yang memberikan kepercayaan penuh untuk mengelola lembaga-lembaga pendidikan.
3. Adanya minat dari sebagian peserta didik yang cukup kuat untuk mendalami ilmu pengetahuan.
4. Adanya kepercayaan dari orang tua siswa yang menganggap MA Al Ishlah merupakan pilihan utama.
5. Yayasan yang sangat mendukung pada kemajuan MA Al Ishlah.
6. Usaha koperasi yang merupakan lumbung biaya operasional memberi dukungan dalam bidang finansial.
7. Keharmonisan guru-guru dalam kebersamaan dan silaturahmi terjalin dengan baik.
8. Guru-guru yang selalu meningkatkan kualitasnya baik itu ikut seminar, workshop, pelatihan ataupun melanjutkan untuk kuliah lagi.
9. Tidak adanya kebekuan komunikasi antara sesama guru, staf TU bahkan siswa.
10. Siswa yang merasa kerasan (betah ) berada di sekolah.
11. Ruangan sekolah yang hampir semuanya sudah permanent.
12. Lab. Komputer yang lengkap dan baru.
13. Kesejahtraan guru yang sudah menyesuaikan dengan lingkungan.
14. Walaupun dengan gajih minim banyak guru yang peduli terhadap siswa yatim atau tak mampu dan menjadi orang tua asuh.
d) Faktor-faktor tantangan kemajuan MA Al Ishlah
1. Menjamurnya sekolah-sekolah menengah terutama SMA Negeri yang berdampak pada kuantitas siswa.
2. Masih banyak yang berkeberatan dengan liburnya hari jum’at.
3. Diantara masyarakat masih ada yang menganggap di Al Ishlah pelajarannya banyak dan berat-berat apalagi dengan banyaknya hapalan.
4. Pengaruh perkembangan tekhnologi dan informasi yang harus lebih extra keras dalam pembinaan kepribadian siswa.
5. Masih adanya guru yang menjalankan tugasnya seenaknya.
6. Masih adanya gangguan dari pihak luar terhadap Madrasah.
7. Pengaturan keuangan dalam rangka sentralisasi belum sempurna.
8. Latar belakang siswa yang berbagai macam ditinjau dari segi ekonomi, sosial dan budaya.
9. Hubungan antara sesama lembaga di Al Ishlah dan keluar juga belum terjalin dengan baik.
10. Pemberian honor dan transport kepada guru harus lebih bisa memotivasi kerja.